CerPen : Melepas Mu…

Rasa sakit yang dirasainMetabegitu menusuk sehingga dia sendiri tidak bisa mengontrol hatinya lagi. Sakit yang begitu mendalam pada seorang cowok yang udah punya pacar,Metasadar kalau dia maju cewek itu pasti sakit, tapi kalau dia mundur dia sendiri yang sakit. Wisma cowok yang selama ini Meta sayang masih selalu menghubunginya, Wisma sendiri selalu membuat benteng pertahanan Meta hancur hingga berkeping-keping danMetasendiri pun tak menghiraukan ceweknya si Wisma.

“Ta!Meta!!”

Seorang gadis berusia dua puluh tahun tersadar dari lamunannya, lalu menolehnya. Olla teman kelasnya menatap sambil mengelengkan kepalanya saat menegurMeta“Elo lagi kenapa si? Gue liat dari masuk kuliah tadi kerja elo ngelamun terus? Elo lagi galau?” seru Olla sambil beresin bukunya yang berantakan.

“Nggak kok, nggak apa-apa La” desisnya.

Olla mengerutkan keningnya sambil menatap temannya itu “Yakin elo nggak kenapa napa? Elo nggak biasa aja kaya gini”

Metatersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya pada Olla dan berharap Olla tidak bertanya lagi. Olla pun mengerti temannya ini butuh waktu beberapa lama untuk menceritakan apa yang sedang ia rasakan sekarang. Mereka berjalan bersamaan ke gerbang kampus dan akhirnya berpisah disana.

Hal pertama yangMetalakukan sesampai dirumah hanya melamun dan melamun, dia bingung dengan hatinya ini. Ia sadar kalau terus-terus dipikirkan dia sendiri yang akan merasakan sakit tapi juga dia tidak menampik perasaan-perasaan yang terus menggangu dan sangat menekan batinnya ini.Metamembatin dalam hatinya,

kenapa gue jadi gini si? kenapa harus gue?.

Batinnya selalu berbisik tak henti-henti. Karena jam sudah menunjuk pukul satu malam dan terlalu lelah untuk memikirkannyaMetaakhirnya tertidur dalam keadaan yang sangat kacau, matanya yang sedikit lebam habis menangis, hidungnya merah, dan napas yang sedikit sesunggukan dalam tidurnya.

***

“Gue nggak kenapa napa kok, lagi pengen ngelamun aja. Gue sendiri bingung apa yang lagi gue pikirin sekarang” jawabMetadatar.Metamenatap dengan mata lelah kepada kedua temannya Olla, Rahmi, Dea, dan Angga yang sedang saling pandang karena melihat tingkah temannya yang tidak biasa itu.

“Dah seminggu ini elo tuh aneh Ta. kita ajak ke kantin elo nggak mau, kita ajak jalan, karaoke atau yang lainnya elo juga nggak mau? “ desis Angga.

“Kita sedih ngeliat keadaan elo Ta, elo cerita dung ma kita biar sedikit beban elo berkurang dan kita bisa sedikit bantu” ucap Olla.

“Cayoo Meta, cayooo elo pasti bisa” seru Rahmi dengan semangat.

Lalu Dea mengiyakan perkataan Rahmi, sambil angkat dua lengannya.Metatersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya dengan lesu. Di dalam hati sebenarnyaMetamasih belum lega karena pikirannya selalu terawang memikirkan sosok Wisma yang selalu membuatnya nyaman di dekatnya. Karena sebelumnya Wisma adalah pacar Meta yang sudah berjalan hampir empat bulan tapi disaatMetamerasakan sayang yang begitu dalam padanya, Wisma minta putus begitu saja.Metaingin bertanya tapi mengurungkan niatnya dengan pasrah melepaskan Wisma walaupun nggak sepenuhnya.

***

Limabelas menit berlalu Meta tanpa sadar tertidur di meja belajarnya dengan posisi melipat kedua tangannya, karena merasakan pegal di seluruh tubuhnyaMetasampai susah untuk menggerakan badannya itu. Tak lama terdengar suara ringtone.Metamengucek matanya lalu mencari ponselnya yang berada tepat di samping tangan kanannya.Adasatu SMS masuk. Dari Wisma!.

Cewek itu sontak kaget. Dengan jantung berdegup keras, dibukanya SMS itu. Isinya sangat singkat, tapi sangat perih dibaca.

Lagi apa yank?

Metatersontak dari bangkunya dan hampir terjatuh kebelakang. Dalam hati Metamengutuk, kenapa bisa-bisanya Wisma kirim SMS pake kata Yank bisa mati gue nanti.Meta ragu ingin membalasnya tapi akhirnya, ia pun menjawab singkat juga tanpa embel-embel di belakangnya.

Aku baru selesai ngerjain tugas.

 

Jemari Wisma ternyata sangat cepat belum sampaiMetake tempat tidurnya, Wisma membalasnya.

            Kamu dah makan? Aku mu tlp kamu ni, blh?

 

Dengan cepat jugaMetamembalasnya.

Iy, blh kok tlp aja.

Tidak lama Wisma meneleponMetadengan nada yang lembut, sekarang ia sadar apa yang sudah membuatnya terhipnotis oleh cowok ini adalah selain dari wajah, warna kulitnya yang hitam manis, perhatiannya, dan suara yang lembut dan merdu terdengar.

“Kamu lagi apa? Sekarang udah selesai tugas kamu? Aku kangen banget ma kamu dah beberapa hari ini kamu nggak SMS, nggak telepon aku?” katanya.Metamenjawab secukupnya, untuk menahan rasa sakit yang tiba-tiba timbul begitu saja saat nada manja dari Wisma.

“Aku lagi tiduran, maaf ya aku sibuk dengan tugas aku jadi nggak bisa temenin kamu SMSan atau telepon”

“Ouh,ya dah aku kira kamu mau ngejauh dari aku? Aku sayang banget ma kamu, aku nggak bisa jauh dari kamu meskipun aku dah punya Hilda tapi rasanya bedanya banget ma kamu. Kamu tuh orangnya simple banget, ngerti kekurangan aku jadi aku nggak canggung ma kamu, tapi kalo Hilda aku harus keliatan perfect di depan dia” desisnya.

“Dah tau gitu kenapa masih kamu pacarin Hilda? Dia nggak taukankamu sering SMSan ma aku? Banding-bandingin dia ma aku? Kamu kenapa sih, selalu ngebuat aku layu sebelum berkembang?” seruMetaseketika. “Kamu selalu ngebuat aku ngarep tapi setelah tuh kamu lupain aku lagi, begitu terus. Bodoh yah aku selalu masuk perangkap kamu. Ikutin kemauan kamu terus, tapi sedikit pun kamu nggak pernah ngehargain pengorbanan aku selama ini, ngerasain betapa sakitnya aku. Hmm!”

“Maafin aku ya, aku dah terlanjur sayang ma Hilda dan nggak bisa tinggalin dia gitu aja. Aku juga egois maksain kamu jadi TTMan aku. Aku juga ngerti sakitnya perasaan kamu setelah tau aku dah punya cewek tapi masih ngarepin kamu. Tapi aku juga nggak bohong kalo kamu mang masih aku sayangin Ta, posisi kamu masih tetep kaya dulu cuma sekarang ada Hilda yang sederajat ma kamu” katanya dengan sedikit serak. “Kamu mau tau kenapa aku pilih Hilda setelah putus dari kamu? Awalnya aku cuma cari pelarian untuk bisa lupain kamu yang aku denger kamu jadian ma cowok namanya Andra temen kamu itu. Tapi semua dah terlanjur kamu putus dari Andra nggak lama aku jadian ma Hilda” sambung Wisma.

“Ya, aku ngerti sekarang. Mending besok aja kamu lanjutin cerita kamu, aku capek mau tidur dah malem juga, besok aku kuliah pagi” desisMetayang ingin banget memutuskan teleponnya dari Wisma. Setelah ditutup teleponnya,Metamemikirkan apa yang dibilang Wisma tadi.

Berarti selama ini Wisma tungguin gue ngerubah sikap gue gitu? Tapi kenapa baru sekarang dia kasih tau, kalo dari dulu dia bilang ke gue nggak bakal kaya gini jadinya.Metangebatin dalam diam, selama berjam-jam dia hanya memutarkan badannya ke kanan dan ke kiri seakan mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Tapi karena otaknya masih terus memikirkan ucapan Wisma tadiMetajadi susah tidur, walaupun matanya sudah sangat lelah. Sesaat dia hanya terdiam, kemudian dia menangis. Sakit. Sesak. Terasa meremukan hatinya.

Adasaatnya kita tidak bisa menahan air mata. Karenanya, biarkan saja dia mengalir. Tidak perlu diredam. Tidak perlu disangkal. Menangis bukanlah cengeng. Menangis meredakan sakit, meskipun tidak mengubah keadaan.

Dan…Metamenangis lagi!

***

“Kenapa sih elo masih aja berhubungan ma dia Ta? Sadar nggak si elo, istilahnya elo dah di ludahin di muka tapi masih aja ngeladenin dia? Mang hati elo nggak capek Ta? Gue sebagai temen elo bener-bener kasian ngeliat elo tersiksa batin gini.” Gertak Olla sambil menatap fokus padaMetayang berada disebelahnya.

“La, gue aja bingung ma perasaan gue yang kaya gini. Jujur gue tuh tersiksa banget, gue tuh polos atau bener-bener bego gue sendiri nggak ngerti La? Hati gue masih nggak ikhlas aja ngeliat dia ma cewek itu, terus dia kasih pilihan lagi ma gue tuk jadi TTMannya. Gue dah coba bilang ke dia tuk jauhin gue tapi jawabannya malah ngebuat gue pikir dua kali tuk ninggalin dia? Gue masih belum bisa lupain dia. Tolongin gue La, bener-bener tolongin gue” Meta memohon pada Olla yang sedang melihatnya terharu, sambil mengulurkan kedua tangannya untuk memelukMeta.

“Iya Meta sayang gue bakal tolongin elo sebisa and semampu gue, tapi inget iya pertolongan gue cuma sedikit yang bisa ngusir rasa sakit itu cuma elo sendiri Ta” sambil melepaskan pelukannya dariMeta. “Karena semua yang jalanin itu elo, gue cuma sebagai pemain figuran di kisah elo. Oke, elo maukanmulai sekarang, detik ini elo sedikit demi sedikit lupain dia? Demi gue, ortu elo, and yang paling penting tuh demi diri elo sendiri yang sering disakitin ma cowok yang nggak jelas kaya dia” lanjutnya.

Metamengangguk pelan dan mereka tersenyum sambil berpelukan lagi.

“Mendingan elo cari cowok lagi, Ta,” usul Olla. “Daripada terus mikirin Wisma. Belom tentu tuh orang mikirin elo juga”

Sejenak Meta membeku mendengar kalimat itu.

“Iya, ya?”

“Iya lah! Udah, lupain. Cari yang baru. Tapi jangan yang ngeselin kaya dia”

“Iya. Bener. Bener.”Metamengangguk sambil tertawa bersama Olla.

***

Sesampainya dirumahMetamemikirkan apa yang dibilang oleh sahabatnya tadi. Ia langsung mengambil tas dan mencari ponselnya untuk mengirim SMS pada Wisma berharap bisa bertemu dengannya hari ini juga. Yang sangat To The Point ke intinya.

kmu lg sbk gk hr ni aku mau ktmu kmu da hal pntng yg hrs aku omongin. gk bs lwt SMS atau tlpon, terserah kmu mau dtng jam berapa k’rmh. Aku tungguin kmu.

Dan Wisma mengiyakan SMS Meta untuk ketemuan.

***

“Kamu mau ngomong apa Ta, katanya penting?” kata Wisma sambil menatap penasaran padaMeta.

“Aku pengen ngejauh dari kamu, lupain kamu, pokoknya nggak sama sekali mau inget sama kamu. Kalopun kamu dateng lagi suatu saat nanti, semoga kamu bisa ngerubah sifat dan kesalahan kamu yang sekarang.” Omongan Meta dengan cepat dan sedikit menahan marah sampai dahi Wisma mengkerut. Dan Wisma diam seribu bahasa tak berkata apapun saatMetaakhirnya menyudahi pertemuan itu.

“Terimakasih ya, udah nemenin aku selama ini. Sebenernya pingin ngucapin dari dulu, Cuma nggak tau gimana caranya. Aku juga mau minta maaf, udah nyakitin kamu sampe begini. Maaf, ya.” Lanjut Meta.

Metamenangkupkan kedua tangannya di depan bibirnya. Tersenyum lagi, lalu balik badan dan pergi.

Wisma tercekat. Kemudian dia melompat begitu saja, menyambar tubuh Meta dengan kedua tangan dan memeluknya erat sampaiMetamerasakan jantung Wisma yang berdegup kencang.

“Tolong lepas. Aku capek mau pulang,” pintanya lirih. Tapi itu justru membuat tangan Wisma makin kuat.

“Gimana cara nebusnya?” tanya Wisma pelan dan sambil melepaskan kedua tangannya dari tubuhMeta.

“Nggak tau.”Metamenggeleng. Bukan untuk menyiksa Wisma tapi karenaMetabener-bener nggak tau jawabannya.

“Jawab, Ta aku harus gimana? Tolong jangan diem aja,” Wisma memohon.

Metamenggigit bibir dan menjawab.

“Lupain aku, jangan gangguin aku selama kamu masih sama Hilda”

“Adalagi?” Tanya Wisma dengan dada semakin sakit.

Metamenggelengkan kepalanya perlahan.

Cukup!

Metatak sanggup lagi berkata yang ada hanya tetesan kepedihan yang sangat menusuk hatinya sampai seluruh badannya terasa lemas tak berdaya. Wisma pun begitu terguncang hati dan emosinya kini bercampur antara marah, kesal, dan sedih seperti ditikam seribu pisau. Tapi memang harus seperti ini jalan terbaik untuk keduanya, tak ada rasa benci, yang ada hanya tersisa rasa kasih sayang yang sudah lama mereka rasakan sampai saat ini.

 

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s